Nonton Film dan Diskusi Bersama Nelayan Tambakrejo Bentuk Dukungan Agar Mereka Tidak Dijauhkan dari Laut

SEMARANG – Selasa (27/2) Pattiro semarang, LBH Semarang bersama warga Tambakrejo mengadakan acara Diskusi Bersama terkait Dampak Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur atau biasa disingkat BKT, yang diselenggarakan di TPQ Tambakrejo, Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara.  Selain diskusi, acara ini juga diselingi beberapa hiburan diantaranya Akustik dan Nonton Film Bersama.

Di acara ini juga didatangi puluhan Jaringan Aktivis Semarang dan juga mahasiswa. Harapannya dengan adanya diskusi ini bisa memperkuat tali persaudaraan dengan warga Tambakrejo yang rencananya tanggal 5 Maret 2018 akan direlokasi di Rusunawa (Rumah Susun Sewa) Kudu walaupun hal itu belum manjadi kesepakatan dengan warga Tambakrejo, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan petani tambak.

Hasil acara diskusi bersama ini menyepakati untuk terus mendukung nelayan untuk tidak dijauhkan dari laut karena melanggar HAM (Hak Asasi Manusia).  Walaupun begitu, acara ini sangat meriah dan disambut antusias oleh warga nelayan Tambakrejo.

Seperti kita ketahui, rencana normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) yang akan dilakukan berdampak pada penggusuran di Dusun Tambakrejo RT 5/RW 16, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.

Sejak tahun 1973 warga telah memanfaatkan lahan di Tambarejo untuk membuat tambak ikan, bandeng, dan udang guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.  Kemudian, pada 1989 warga mulai mendirikan pemukiman di sekitar lahan tersebut.  Saat ini sebagian besar warga Tambakrejo bermata pencarian sebagai nelayan kecil dan petambak ikan yang sangat bergantung pada laut.

Berdasarkan sosialisasi yang dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana dan Pemerintah Kota Semarang di Balai Kelurahan Tanjung Mas pada Senin (22/01) kepada warga bahwa akan diadakannya normalisasi BKT.  Sebanyak 148 KK yang tinggal di sepanjang aliran sungai tersebut akan digusur tanpa adanya ganti rugi apapun.

Kemudian dalam sosialisasi kedua yang dilakukan di Aula Kecamatan Semarang Utara pada Senin (5/02) kembali disampaikan oleh Camat  Semarang Utara, Aniceto Magno da Silva, bahwa pada tanggal 5 Maret 2018 akan ada pembongkaran bangunan dan warga diminta segera pindah ke Rusunawa Kudu namun pada akhirnya pada tanggal 2 Maret diputuskan bahwa penggusuran ditunda dalam sampai waktu yang tidak tentukan dan nasib mereka menjadi tidak jelas.

Hasil Audiensi bertemu dengan pemerintah Kota Semarang, kembali dipertegas bahwa warga hanya dikompensasi berupa penggratisan biaya sewa Rusunawa selama satu tahun.

Apa yang disampaikan oleh pemerintah kota tersebut telah memberatkan warga.  Meskipun sebenarnya warga Tambakrejo tidak menolak normalisasi BKT, namun warga menyesalkan sikap pemerintah yang tidak pernah melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait nasib mereka.

Selain itu juga solusi untuk pindah di Rusunawa Kudu bagi masyarakat Tambakrejo tidak tepat karena sebagian besar adalah nelayan yang tidak mungkin tinggal di rumah susun yang sempit dan jauh dari laut tempat mereka mencari penghidupan. [NH]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *