Tingkatkan Kapasitas Pegiat, PATTIRO Semarang Gelar Pelatihan Penulisan Policy Brief

Tingkatkan Kapasitas Pegiat, PATTIRO Semarang Gelar Pelatihan Penulisan Policy Brief

34
0
SHARE

Sabtu-Minggu (14-15/4), Pattiro Semarang mengadakan pelatihan penulisan Policy Brief di kantor yang bertempat di Lamper Kidul. Pelatihan ini guna meningkatkan kapasitas pegiat Pattiro Semarang khususnya pegiat Divisi Program dan Advokasi dalam hal advoksi melalui tulisan.

Kuatnya tradisi menulis menjadi salah satu dasar bagi para penguasa sebelum mengambil kebijakan.  Sebaliknya, dalam suatu negara atau pemerintah yang kurang memiliki tradisi menulis yang kuat, sebuah tulisan belum cukup mampu menjadi faktor yang mempengaruhi kebijakan seorang penguasa.

Masih banyak masyarakat, bahkan pejabat pemerintah yang belum tahu fungsi policy paper atau policy brief.  Policy brief merupakan alat komunikasi antara organisasi masyarakat dengan pemerintah. Penulisan dan penggunaan policy brief adalah sebagai bagian dari alat dalam proses advokasi kebijakan, dimana masih jarang dilakukan oleh lembaga-lembaga di Indonesia.

Hendrik Rosdinar (YAPPIKA Action-Aid), trainer dalam acara ini menegaskan bahwa policy brief tidak sama dengan policy research. “Policy research sifatnya ilmiah, dia produk akademis, menggunakan bahasa ilmiah, isinya mendalam dan ekploratif dimana terdapat beberapa isu utama. Sedangkan policy brief bahasanya lebih sederhana, menggunakan kata-kata populer dan yang paling penting tulisannya bersifat komunikatif, ringkas tetapi fokus terhadap satu isu utama maupun satu masalah”, papar Hendrik.

Pembuatan policy brief ada beberapa tahapan, diantaranya melakukan identifikasi awal, mentransformasi hasil riset, membangun kerangka, menulis policy brief, dan melakukan review atas tulisan policy yang telah dikerjakan. Selama dua hari, seluruh pegiat Pattiro digembleng untuk merancang dan membuat draft policy brief dari hasil riset-riset yang telah dilakukan oleh Pattiro.

Hendrik menekankan sekali lagi bahwa tujuan dari policy brief adalah adanya perubahan kebijakan. Melalui policy brief, organisasi masyarakat akan mengadvokasi kebijakan yang telah ada. Yang harus diingat sasaran pembaca policy brief adalah policy maker.

“Biasanya mereka (policy maker) tidak suka bahasa yang tinggi dan berbelit-belit. Singkat, padat dan komunikatif. Ingat, melalui policy brief, policy maker harus langsung mengerti apa yang diinginkan masyarakat dan apa yang harus mereka perbuat”, pungkas Hendrik.

Terakhir pesan Hendrik dalam akhir pelatihan, “Policy brief yang baik belum tentu bisa mengubah kebijakan karena strategi politik yang kurang baik dan Policy brief yang buruk belum tentu juga tidak bisa mengubah kebijakan, bila tekanan politik dan strategi advokasi kuat.” (IS)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY