Normalisasi Banjir Kanal Timur : Jangan Menghilangkan Hak Nelayan Melaut

Normalisasi Banjir Kanal Timur : Jangan Menghilangkan Hak Nelayan Melaut

104
0
SHARE

SEMARANG – Dalam upaya mengurangi rob dan banjir di kota Semarang Pemkot Semarang melaksanakan Program Normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT). Program yang didanai Kementrian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana memiliki panjang 14,6 km dengan nilai proyek sebesar 485 Milyar.

Proyek Multiyears ini dibagi tiga paket pekerjaaan, pertama dari jembatan Jalan Majapahit – jembatan Citarum, kedua dari jembatan Citarum – jembatan kereta api, dan ketiga dari jembatan kereta api – muara. Normalisasi BKT diharapkan selesai pada 16 Desember 2019.

Salah satu yang terkena dampak Normalisasi BKT adalah warga Tambakrejo RT 15/ RW 05, Kelurahan Tanjung Emas, kota Semarang. Warga yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, petani tambak dan buruh ini direncanakan akan dipindah ke Rumah Susun Kudu.

Warga sepenuhnya mendukung Normalisasi BKT namun mereka ingin tempat pengganti yang dekat dengan laut. Warga menyatakan ekonomi mereka yang mayoritas nelayan bisa bergoncang jika mereka ganti mata pencaharian dengan tinggal di Rusun Kudu.

Untuk itu mereka meminta pendampingan kepada PATTIRO Semarang dan LBH Semarang untuk memfasilitasi berdialog dengan Pemkot Semarang dalam hal mencari solusi terhadap permasalahan ini.

Pada Jumat, 02 Maret 2018 Walikota, diwakili Asisten I Trijoto dan perangkat Pemkot Semarang menerima Audiensi Warga dan hingga saat ini belum ada keputusan bagaimana nasib warga kedepan. (Arif A)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY