Home Advokasi Reportase Bedah Film “Menolak Diam!” Bersama Anak Muda dan Seniman Semarang

Bedah Film “Menolak Diam!” Bersama Anak Muda dan Seniman Semarang

306
0

Semarang – PATTIRO dan Transparency International Indonesias (TII) bekerjasama dengan An Innovative Partnership for the 21st Century dan Embassy of Denmark telah mengadakan Nobar dan Bedah Film, yang berjudul Menolak Diam!, produksi Nightbus Picture. Acara ini diselenggarakan sebagai aksi kampanye antikorupsi melalui media perfilman. “Melawan korupsi tidak bisa sendirian. KPK, kepolisian, dan kejaksaan tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat sipil juga harus terlibat,” kata Emil Heradi selaku sutradara dari film tersebut.

Acara yang diselenggarakan di Noormans Hotel pada 21 Desember 2017 itu menghadirkan salah satu pemain utama film Menolak Diam!, yaitu Rahael Ketsia yang berperan sebagai Nisa, yang didampingi oleh Agus Sarwono (TI Indonesia), dan Handry TM (Dewan Kesenian Semarang). Masyarakat umum yang antusias dengan acara ini turut hadir untuk menyaksikan film dan berdiskusi.

Film yang juga dibintangi oleh Petrus Aji Santoso (Alif), Elang El Gibran (Satrio), Kevin Kalagita (Bondan), dan Zed Makarim (Dito) ini bercerita tentang adanya kasus korupsi yang terjadi di salah satu sekolah unggulan di Jogjakarta.

“Pemutaran film ini kita lakukan secara konvesional dengan melakukan roadshow ke 9 kota, mengadakan diskusi, setelah keliling 9 kota selesai, film akan kami tayangkan di YouTube channel TI,” terang Agus Sarwono. Ia juga menambahkan bahwa ketika YouTube dipilih sebagai alternatif untuk penayangan film, itu berarti juga dibutuhkan strategi. Di TI sendiri konsentrasinya memang mengampanyekan nilai-nilai dan gerakan sosial anti korupsi.

Film bertendensi kritik sosial ini dibuat dalam rangka gerakan anti korupsi dan benar-benar menjarang tema tersebut. Menurut Rahael, tidak ada tantangan yang berat dalam bermain di film ini, semuanya enak dan berjalan menyenangkan. Ia berpesan kepada anak muda untuk turut berperan dalam gerakan antikorupsi. Dimulai dari diri sendiri yaitu dengan cara disiplin.

Dalam acara ini pula, Handry TM menganggap film ini dan yang sejenis ini sebagai mimpi yang besar sekali. Semarang telah memiliki bibit-bibit bagus untuk dipotensikan dan diorbitkan. Semarang sendiri adalah kota pertama dalam hal lahirnya perindustrian kekeretaapian. Andaikata dari sini dicoba untuk membuat sebuah narasi naskah perkeretaapian, pasti bisa sampai kemana-mana. Handry TM juga berpikir bahwa tema korupsi adalah pilihan, karena memiliki transparasi, ia meminta dibukakan laporan biaya produksi. Ia berharap film ini bukan menjadi inspirasi saja, namun juga dapat diteruskan atau sebagai tindak nyata untuk masyarakat. IQ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here