Kolaborasi Pasar Rakyat dan Budaya Lokal untuk Menaikkan Retribusi Pasar

Kolaborasi Pasar Rakyat dan Budaya Lokal untuk Menaikkan Retribusi Pasar

Posted on 23 Novemeber 2017

72
SHARE

Retribusi pasar kurun waktu 2012 hingga 2014 mengalami kenaikan, namun tahun 2015 dan 2016 mengalami penurunan. Prof. Dr. Sucihatiningsih, Dosen Universitas Negeri Semarang dalam sosialisasi penelitianya pada Rabu (15/11), di Gedung Balaikota Semarang menyampaikan kebakaran pasar johar, salah satu penyebab turunya retribusi pasar, “ UPTD Pasar johar yang mengalami penurunan retribusi yaitu dari Johar Utara, Johar Tengah, Johar Selatan, dan pasar Yaik Permai. Kontribusi retribusi dari pasar tersebut turun 70% jika dibanding sebelum kebakaran”.

Dalam penelitian mengenai optimalisasi pasar rakyat di Kota Semarang, dari 54 pasar yang ada, terdapat 38 pasar yang belum di revitalisasi. Meskipun sejumlah pasar sudah di revitalisasi dan mengalami peningkatan retribusi, masih banyak hal yang belum di tangani. Beberapa hal yang harus di benahi dalam penjelasannya antara lain perbaikan sistem dan layanan parkir, pemeliharaan bangunan, pembenahan tata letak dan zonasi kios.

Terkait peningkatan retribusi pasar rakyat, sebagimana penuturan Prof. Dr. Suciningsih dalam wawancara, beliau menyarankan pemerintah Kota Semarang untuk melihat pasar rakyat di Solo yang sudah tertata klasternya, “sebaiknya pasar rakyat dibuat menarik, seperti pasar-pasar yang ada di solo, ada pasar gede dan pasar klewer yang sudah tertata klasternya”.

Prof. Dr. Suciningsih menawarkan konsep pasar dengan kolaborasi budaya, terutama pasar bulu dan pasar johar yang letaknya strategis dengan tempat wisata. Selain itu beliau menambahkan untuk diadakan event di hari-hari besar, sehingga integrasi antara pentaan dengan budaya lokal akan menarik orang-orang untuk ke pasar rakyat, dan menikkan retribusi pasar. (MS)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY