Bersama OPD dan NGO Bangun Kota Semarang Ber-Inklusi

Bersama OPD dan NGO Bangun Kota Semarang Ber-Inklusi

Posted on 24 November 2017

76
SHARE

Pusat Pengembangan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Solo menggelar pelatihan lintas OPD dan NGO Kota Semarang mulai 15 sampai 17 November 2017. Pelatihan dengan tema “Indonesia Inklusi: Melawan Diskriminasi dan Stigma terhadap Perempuan dan Anak Difabel di Jawa Tengah”, bertujuan menghadirkan Tim Advokasi Difabel (TAD) yang terdiri dari OPD, NGO, dan organisasi difabel untuk mewujudkan tata masyarakat yang inklusi.

Selama tiga hari, peserta dilatih mengenai Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM) sehingga melalui metode ini semua pihak baik OPD, NGO, dan organisasi mampu menerapkan pemberdayaan dan advokasi difabel. Mewujudkan masyarakat yang inklusi, kaum difabel lebih dipandang sebagai manusia pada umumnya yang mendapatkan hak setara dengan yang lain.

Perwujudan masyarakat inklusi adalah hadirnya isu difabel pada semua sektor kehidupan masyarakat. Sebagai contoh, diterimanya seorang difabel di sekolah biasa dan mampu bergaul dengan siswa normal lainnya merupakan wujud dari masyarakat yang inklusi.

Masih banyaknya ketidaktahuan dari berbagai pihak akan penerapan model inklusi di masyarakat, di pemerintah, keluarga mengakibatkan perwujudan masyarakat inklusi serasa berjalan di tempat. Masih banyak tantangan di Kota Semarang, di antaranya yaitu belum adanya payung hukum tentang difabel, belum adanya satu data yang valid tentang jumlah difabel di Kota Semarang, dan belum adanya SDM yang memadai di sektor-sektor pelayanan dasar yang memahami penanganan difabel.

Perwujudan program inklusi tidak harus berbentuk program dengan embel-embel kata “difabel” dalam penamaan program. Semua program atau kegiatan yang melibatkan pihak difabel di dalamnya meskipun nama program tersebut tidak ada ada kata “difabel”, maka program tersebut sudah dikatakan sebagai program inklusi.

Guna perwujudan Kota Semarang yang inklusi, perlu dibentuk Tim Advokasi Difabel (TAD) lintas sektor. Ada 3 sektor yang berbeda dalam TAD, yaitu kaum difabel yang diwakilkan oleh HMIKS (Himpunan Masyarakat Inklusi Kota Semarang); pemerintah kota yang diwakilkan oleh 9 OPD (dinas sosial, dinas pendidikan, dinas kesehatan, BPBD, disnaker, DPPPA, DPU, dinas industri, pengadilan negeri); dan LSM yang diwakilkan oleh Pattiro Semarang, LRC-KJHAM, PKBI Jateng, Setara, PC NU Kota Semarang, dan PD Muhammadiyah. Tim ini akan diajukan ke dinas sosial selaku leading sector untuk selanjutnya diajukan untuk disahkan oleh Walikota Semarang.[] –IS-

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY