Prinsip Manajemen Keuangan Organisasi Masyarakat Sipil

Prinsip Manajemen Keuangan Organisasi Masyarakat Sipil

475
0
SHARE

Penting untuk mengidentifikasi serangkaian prinsip praktik yang baik yang bisa digunakan sebagai standar dalam mengembangkan sistem-sistem manajemen keuangan yang tepat dalam sebuah OMS. Prinsip-prinsip ini akan memandu perilaku dan membantu dalam kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur kerja dalam suatu OMS. Perhatikan secara seksama Tujuh Prinsip Manajemen Keuangan berikut sebagai tujuan dalam menyelenggarakan menajemen keuangan organisasi Anda.

  1. Custodianship (Penjagaan). Prinsip ini mengacu pada penjagaan atau pengamanan sumber-sumber daya OMS. Mereka dipercaya oleh publik untuk memegang aset-aset dan dana-dana, dan mesti memastikan bahwa kesemua itu dipakai hanya sehubungan dengan konstitusi OMS maupun persetujuan-persetujuan kontraktual apa pun yang termasuk di dalamnya.
  2. Accountability (Akuntabilitas). Mereka yang telah menginvestasikan bukan hanya uang tapi juga waktu, usaha, dan kepercayaan kepada OMS ingin melihat bahwa sumber-sumber daya organisasi tersebut dipakai secara efektif dan demi tujuan-tujuan yang mereka kehendaki saja belaka. Akuntabilitas adalah tugas moral dan legal, yang dibebankan kepada individu, kelompok, atau organisasi, untuk menerangkan bagaimana dana-dana, sarana/perlengkapan, dan kewenangan yang telah diberikan oleh pihak ketiga telah dimanfaatkan.
  3. Transparancy (Transparansi). Sistem keuangan OMS harus dimapankan. Dengan itu, semua informasi keuangan harus dicatat secara akurat dan dipresentasikan secara jelas, serta bisa diketahui secara mudah oleh mereka yang memiliki hak untuk memintanya. Bila hal ini tidak bisa dicapai, akan muncul kesan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di dalam OMS.
  4. Consistency (Konsistensi). Sistem keuangan OMS harus berjalan secara konsisten  dari tahun ke tahun sehingga perbandingan bisa dilakukan, kecenderungan-kecenderungan bisa dianalisis, dan transparansi bisa diterapkan. Hal ini bukan berarti bahwa upaya-upaya perbaikan sistem tak mungkin dilakukan di tengah jalan. Lebih dari itu pendekatan-pendekatan yang inkonsisten di dalam praktik manajemen keuangan OMS bisa dilihat oleh pihak-pihak tertentu di luar OMS sebagai manipulasi.
  5. Integrity (Integritas). Integritas atau kejujuran dan keandalan suatu OMS, dan individu-individu di dalamnya, seharusnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi demi penerapan keuangan yang benar. Untuk mencapai hal ini, harusnya tiada lagi keraguan tentang bagaimana dana-dana tersebut dibelanjakan. Laporan-laporan keuangan harus bisa menjadi cerminan atas kenyataan yang sesungguhnya terjadi. Prosedur-prosedur yang benar pun mesti disusun dan ditaati oleh semua staf.
  6. Non-Deficit Financing (Pembiayaan Non-Defisit). Suatu OMS, sebaiknya, tidak berniat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu sampai cukup percaya diri  bahwa ia akan memiliki pendanaan yang cukup untuk menutupi semua biaya kegiatannya. Jangan pula suatu OMS didirikan tidak untuk memenuhi komitmen-komitmen yang sudah dibuatnya atau, apalagi, membuang-buang sumber daya dengan secara amat sembrono.
  7. Standard Documentation (Dokumentasi Standar). Sistem untuk mengelola catatan-catatan dan dokumentasi keuangan, sebaiknya, memerhatikan prinsip-prinsip dan standar-standar akutansi yang sudah diterima secara internasional dengan mengadaptasinya agar cocok (compatible) dengan kondisi dan konteks masing-masing OMS. Sistem untuk mengelola catatan-catatan keuangan OMS Anda harus bisa dimengerti oleh akuntan mana pun dari seluruh penjuru dunia.

Sumber: KeuanganLSM.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY