Markun Berupaya Lawan Korupsi

Markun Berupaya Lawan Korupsi

591
SHARE

MARKUN tak lagi mengajar murid SD, lantaran tak mendapat surat keputusan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia tak mau menyogok untuk memperolehnya, meski sang istri terus membujuknya. “Kamu adalah cerminan rumahmu,” kalimat itulah yang diajarkan Markun kepada muridnya.

Orang di sekeliling Markun mengenangnya sebagai guru bersih dan orang baik. Laras, murid Markun, mengenang ajarannya hingga dewasa. Ironisnya, ayah Laras adalah orang yang menggagalkan surat keputusan PNS Markun karena tak menerima sogokan. Ajaran Markun tentang kejujuran itu dipakai untuk menampik ajakan sang pacar untuk menikah dengan menyogok pegawai KUA.

Penggalan kisah keseharian itu berjudul Aku Padamu yang disutradarai Lasja F Susatyo. Film ini menjadi salah satu bagian dalam film K vs K yang digarap dengan teknik omnibus, penggabungan beberapa film pendek. Nicholas Saputra, Revalina S Temat dan Ringgo Agus Rahman membuat kisah sederhana film ini menyedot perhatian penonton di Studio 1 XXI Mal paragon, Jumat (17/2). Adapun “K vs K” artinya “Kita Versus Korupsi”.

Puluhan penonton dari segala segmen usia dan kalangan memperoleh tiket gratis dalam roadshow peluncuran film antikorupsi ini. Pelajar, mahasiswa, pejabat pemerintahan, jaksa, polisi, jurnalis hingga lembaga swadaya masyarakat Semarang menontonnya kemarin. Selain Aku Padamu, tiga film pendek lain yang juga bergenre drama turut melengkapi K vs K.

Sementara itu, Rumah Perkara karya Emil Heradi mengisahkan penyuapan kepala desa dari pengembang properti. Sutradara muda, Chairun Nissa membesut praktik korupsi dengan tema sederhana di sebuah SMA. Kebetulan Chairun pernah mengalaminya sendiri, yakni tentang praktik penjualan buku sekolah oleh guru yang lebih mahal dari harga pasar. Celakanya, si murid justru diajak kongkalikong sang guru dalam penjualan itu.

Peristiwa Malari

Tak ketinggalan, sutradara Ine Febriyanti menyumbangkan kebolehannya dengan Selamat Siang, Risa1. Ine menggandeng Tora Sudiro, Dominique Agisca Diyose dan Medina Kamil. Film ini berlatar kondisi sosial Politik Indonesia tahun 1974 saat pecahnya peristiwa Malari, demonstrasi besar yang menuntut perbaikan ekonomi dan pemberangusan koruptor. “Penolakan terhadap korupsi di Indonesia ternyata sudah ada sejak tahun 70-an. Semangat itu yang menurut saya harus tetap ada pada generasi muda sekarang,” terang Ine yang hadir dalam peluncuran K vs K di Semarang.

Semarang menjadi kota pertama yang dituju untuk roadshow film K vs K di daerah, setelah peluncuran perdananya di jakarta 26 Januari 2012 lalu. Dalam pemutaran di Semarang ini, Transparency International Indonesia (TII) bekerja sama dengan Pattiro. Pemutaran film ini disebarkan secara nonkomersial, sehingga tidak semua bioskop mendapatkan film ini.

’’Namun harapan kami ke depan, film ini dapat menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah dan kampus-kampus untuk menanamkan perlawanan terhadap korupsi,” kata Ketua Dewan Eksekutif Transparency International Indonesia (TII), Natalia Subagyo kemarin.

TII menerima permohonan pemutaran film itu. TII sendiri terlibat dalam produksi sekaligus bertanggung jawab dalam pemutaran dan kampanye di daerah. Pendukung lainnya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Management Systems International, dan rumah produksi Cangkir Kopi.

 

Sumber :Suara Merdeka

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY