Kontinuitas Program Gerdu Kempling

Kontinuitas, baik dalam perhatian, pengawasan, maupun evaluasi tampaknya masih langka dilakukan terhadap program-program pemerintah daerah/ kota. Itu pulalah yang terjadi dengan program pengentasan kemiskinan Pemerintah Kota Semarang melalui Gerakan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan Bidang Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Infrastruktur, dan Lingkungan (Gerdu Kempling). Akibatnya, program ini dinilai kurang maksimal dan ditemukan banyak persoalan di lapangan.


Ada kelompok masyarakat yang sama sekali belum pernah menerima bantuan, meskipun disebut-sebut bakal mendapatkannya. Ada yang menerima tetapi tidak sesuai harapan, sehingga bantuan itu mangkrak. Program pendampingan juga tidak berkelanjutan. Menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Undip Prof Imam Ghozali, pendampingan yang dilakukan dalam budidaya perikanan/ peternakan hanya berjalan setahun, setelah itu tidak ada kelanjutannya lagi.


Intinya, seperti disebutkan Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro), Gerdu Kempling memiliki tiga kekurangan. Pertama, tidak ada sinkronisasi antara program dengan kegiatan. Misalnya bantuan yang seharusnya berupa tekonologi hingga strategi pemasaran ternyata tak diberikan. Kedua, tidak tepat sasaran. Data nama dan alamat masih sering meleset. Ketiga, program ini dijalankan tak sesuai kebutuhan. Sangat disayangkan program yang sebenarnya sangat baik ini ternyata lemah dalam pelaksanaan. 


Belum lagi ditambah dengan political will pemerintah yang tidak optimal. Hal ini bisa dilihat dari kebijakan anggaran. Program yang dimaksudkan untuk mengurangi angka kemiskinan di 177 kelurahan, dengan target 2 persen per tahun ini diluncurkan ketika pembahasan dan penetapan APBD Kota 2011 sudah selesai. Selain itu, program juga lebih menitikberatkan pembangunan infrastruktur dengan alokasi anggaran yang naik pada APBD 2012. Sementara anggaran untuk kesejahteraan sosial relatif tetap.


Kita mengapresiasi sejumlah pendampingan yang masih berjalan dan sukses hingga sekarang. Seperti yang dilakukan Unnes di wilayah Gunungpati dan Tanjungmas. Pembinaan dan pendampingan difokuskan pada bidang ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Program-program tersebut berjalan lancar dengan menggandeng BNI dan Pertamina. Sebelum menjalankan program ini Unnes melakukan observasi potensi. Maka yang perlu dilakukan adalah meniru kontinuitas seperti itu.


Pendanaan Gerdu Kempling tidak hanya bersumber dari APBD yang terdapat di dinas-dinas,  namun juga dari PNPM, CSR perusahaan, dan DAK Pemerintah Pusat. Sebenarnya, seperti diungkapkan Plt Wali KotaHendrar Prihadi, program ini merupakan solusi penganggulangan kemiskinan dengan sinergi seluruh stakeholder pembangunan di Kota Semarang. Mengingat pentingnya kegiatan ini bagi warga dalam meningkatkan perekonomian serta kesejahteraan, dukungan yang luas sungguh diperlukan.

 

Sumber:  suaramerdeka.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *